waktu yang bening tersapu oleh angin
membawa ke musim yang baru
hujan yang jatuh dari telapak tanganku
berkilauan dengan cepat
kota mulai berganti warna
saat aku mulai menyadarinya,
semua sudah terlambat
aku menutup mata,
dinginnya musim dingin pun terasa hangat bagiku
di tanah yang diselimuti hujan yang berlinang,
hembusan nafas kita menari diudara dengan jari-jari yang saling terjalin,
perasaan yang berharga itu aku mengingatnya
dunia mulai berputar, mencuri hatiku
bergetar di matamu yang tulus
karena hujan yang turun dengan lembut membungkus senyummu
aku mengharapkan keabadian
menatap patung kaca yang selalu ia pandangi dipinggir jendela,
memandang embun yang transparan dan berkilauan itu,
membuatku teringat kenangan yang menyakitkan
saat aku berputar di tengah-tengah spiral hatiku
kesalahanku menutup mataku dan tertawa mencemoohku
waktu yang bening tersapu oleh angin
membawa ke musim yang baru, bahkan saat ini,
saat aku memandang kenangan yang memuncak dihatiku
desahan nafasku melayang tak terlihat
dikelilingi oleh langit yang menjulang tinggi
aku tidak bisa menghentikan bahu yg gemetar ini,
tersembunyi dibalik awan yang membeku
kobaran matahari membakarku dengan acuh
di tempat yg sunyi ini,
aku memandangmu yang tanpa dosa
kata-kataku sudah terlambat dan sekarang tidak mampu menggapaimu
aku terpesona,
dunia mulai berputar, mencuri hatiku
bergetar di matamu yang tulus
karena hujan yang turun dengan lembut membungkus senyummu
bagian dari dirimu, merasuk ke dalam diriku inchi demi inchi
Kau, yang tercuri oleh yang waktu yang bening ini
di tengah sinar matahari yang tentram ini
aku mencari hal yang masih tersisa
menanti sampai datangnya musim semi,
dikelilingi oleh langit yang menjulang tinggi,
kobaran matahari membakarku dengan acuh.