kata yang tertuangkan diatas kertas adalah bentuk dari perasaan yang mengalir lewat pena. kemudian tersirat dalam secarcik indahnya kata yang terkumpul menjadi bait-bait yang mengalun penuh makna..

Thursday, November 17, 2011

Dengan Sudut Pandang Berbeda

Dengan sudut pandang yang berbeda,,
kulantunkan nada kerinduan bersama desaian angin malam yang membesat ke telinga.
Deraian airmata pun tak kuasa terbendungkan,,
trus mengalir melalui nadi,,
membaur hingga berujung pada lubuk hati ini.
...
Entah..
Entah sampai kapan..
Sampai kapan perasaanku akan bermain pada roda-roda percintaan.
Entah bagaimana jika roda itu tak berputar tidak lagi pada porosnya.
Apakah aku hanya terdiam dan menatapnya?
Apakah aku harus menerimanya begitu saja?
Walau aku tak mengerti maksud dari keterimaan itu.
Apakah aku harus membuang muka lalu menolaknya?
Meski masih ada perasaan itu yang terus mengalir pada aliran darahku..

Aku,, yang tak lebih dari orang yang mengagumimu.
Aku,, yang tak lebih dari orang yang menyayangimu.
Aku,, yang tak lebih dari orang yang menyukaimu.
Dan aku,, yang tak lebih sempurna dari apa yang kau harapkan.

Aku menunggumu disini,,
seberapa batas waktu akan meminjamkannya kepadaku.
Masih disini dan selalu menunggumu..
Hingga batas waktu tak lagi meminjankan kepadaku.
Dan aku selalu disini masih menunggumu..
Hingga batas waktu kan mengambil semua dari apa yang kupinjamkannya.

Friday, November 4, 2011

Damai

Puncak senyuman sedang memainkan perannya malam ini..
Mengungkap rahasia kerinduan yang lama bersembunyi..
Suara jiwa mengumbar keceriaan bersama..
Diisi kegelapan membentang panjang permadani..
Menemani hari penuh sapa,memutar berama kesejukan..

Ooh.. Kedamaian yang meninggi..
Mengurai semua kepenatan yang ada..
Bersimpuh tarian dengan musik alunan suara nan indah,,
Seindah indahnya..
jauh,, jauh dari apa yang pernah kita rasakan..

Sunday, October 23, 2011

mungkin tak kembali

Kau hempaskan jiwaku dalam kenangan..
Hingga ku terlelap dalam kebisuan..
Kau hanya meninggalkan cinta dalam angan..
Hingga ragaku terbelenggu oleh kesalahan..

Tinggalah aku dalam cinta yang tak tersentuh..
Menyisahkan kisah tentangmu dalam hidupku..
Mungkin itu hanyalah pertemuan yang singkat..
Namun 'kan ku ukir dalam lembaran hatiku..

Kau jiwa yang telah hilang..
Mungkin takkan lagi kembali..
Kau kasih yang telah pergi..
Mungkin takkan lagi ku dekap..
Kau raga yang telah menjauh..
Mungkin takkan lagi ku peluk..
Kau cinta yang telah terlepas..
Mungkin takkan lagi ku genggam..

Andai kau tahu..
Diriku disini selalu menantimu..
Hingga akhir batas waktu..
Berharap dirimu kembali dalam cerita hidupku..

Friday, October 14, 2011

Dua Disaat Senja :: Perempuan Terbalutkan Luka

Kebahagiaan tidak ada didunia ini, takkan pernah ditemui dimana pun. Yang ada hanyalah kepahitan getirnya hidup. Begitu pula ketika aku menemukan cinta, sebelum tumbuh, yang terasa hanyalah lara. Menghujam perih, laksana bilahan jarum menusuk dihatiku. Sakitnya berpendar, berbaur dan menggumpal pada aliran darah. Menguras persendian air mata, hingga menyesakan rongga dada. Sebab, cinta hanyalah luka bagiku.

Tepian samudra disaat senja. Mulai terlukis warna jingga dilautan yang memudarkan cahayanya. Mataku berkaca dan hati pun terangkai menjadi sebuah panorama alam yang begitu mega. Lisan tak mampu lagi berucapkan kata. Raga ini hanya berdecak kagum oleh keindahan cakrawala. Deguban jantung pun ikut menari dalam keindahannya.

Aku, perempuan yang terbalutkan sepi. Perlahan tenggelam dalam desir pasir pantai yang telah memudar. Begitu lambat, seperti sesuatu yang hampa dan tanpa adanya tujuan. Meninggalkan jejak langkah pada sederet kenangan dibelakangnya, hingga hilang tanpa bekas. Lalu air laut segera membasuhku, Namun aroma itu masih tetap sama. Dan sejenak mengatur irama hembusan nafas "aku merasa damai, sedamai mentari dipagi hari". Saat itulah aku inginkan sebuah masa, saat itulah aku inginkan sebuah waktu. Aku hanya bisa menangis kala merasakan damai dan aku hanya bisa tertawa saat sadar akan kesendirianku.

Aku, perempuan yang terbalutkan pilu. Lelah pada sang waktu, lelah pada kehidupan, lelahku mencari cinta yang telah tiada. Namun, semua tak mengandung sebuah arti. Perjalanan hidup ini, perjuangan yang tiada pasti. Membuatku tenggelam dalam dunia fana, yang takkan pernah nyata. Penuh rahasia dibalik sebuah misteri, yang selamanya tak ku tahui. Sebelum senja tiba, biarkan angin berlalu disela pepohonan yang berbaris syahdu, membawakan kenangan masalalu menuju tepian hatiku yang telah kosong. Sebelum senja singgah, biarkan awan berkelana, membawakan segumpal asa menuju samudra raya. Sebelum senja usai, biarkan ku gapai segalanya, agar tersenyumku dalam segenggam luka.

Aku, perempuan yang terbalutkan luka. Sejenak raga ini mulai singgah dari serbuk pasir yang berderai. Seolah jiwa ini terlah tertafsir oleh lautan yang terisikan oleh karang. Terhenti aku dalam berfikir, lalu mulai memasuki renunganku. Pepohonan senja telah kilaukan dedaunan, bagai kristal tertiupkan angin. Kesunyian terbakar disepucuk ilalang, menyilaukan cahaya ke dalam kalbu. Surya bagaikan lensa jingga, dimataku kaulah cakrawala cinta. Selendang gelombang ikut menari meliukan hatiku. Gulungan ombak merepih ketepian, sempurnakan sudut akhir kerlingan mata. Aku pun tersungkur dicahaya matamu. Guguran kelopak awan jatuh menjelma perahu, menuntunku dalam kelambu menuju tempat yang jauh.. Jauh lebih indah dari kilauan semesta ini.

Suara Kematian

Suara itu meresap tajam.

Menghujam perih,
Laksana ribuan bilahan jarum menusuk ke ulu hati.

Sakitnya berpendar,
Berbaur dan bergumpal pada aliran darah.

Menguras persendian air mata.
Hingga menyesakan rongga dada.

Alunan itu,,
alunan nada pengantar kematian.

Dikumandangkan bagi mereka yang hidup.

Untuk mengingatkan mereka pada kematian.

Tak Usah Berlarut

Aku akan jadi seonggok daging yang berguna.
Tersenyum bahagia ke segala arah.
Menempuh jalan yang sudah ada.
Bergerak pasti, bergerak maju.

Buat apa aku murung, bila bintang saja masih dapat tersenyum dalam gelapnya malam.
Buat apa aku gundah, bila matahari saja masih dapat bersinar cerah.
Buat apa aku menangis, bila embun saja masih meneteskan kesejukan.
Dan.. Buat apa aku bersedih, bila bumi saja masih berputar pada porosnya.

Tak usah berlarut..
Bila tak mau jadi yang tak berguna.

Akan ku rangkai serpihan yang telah lama berserakan.
Serpihan dari sisa-sisa mimpi dan harapan.
Ku bentuk dengan sepenuhnya hati.
Yang akan tersenyum menjadi sebuah kenyataan.

Curahan Hati Diatas Kertas

Apa yang kurasa..
Kutuangkan dalam tinta.
Ku tuliskan menjadi sebuah kata.
Berirama pada alunan pena.


Kejadian diatas dunia..
Ku siratkan diatas kertas.
Kusiramkan dengan getirnya kehidupan.
Pahit dan pilu pada kenyataan.


Lisan hanya mampu terdiam..
Bersuara pada hati yg terdalam.
Kunyatakan dalam barisan kata.
Menjadikannya kalimat curahan hati.

Hidup Ini Tak Berguna

hidup ini terasa tak bermakna dan percuma.
hanya mampu terdiam dan tak memahami.
membisu tiada arti.
tak ada yg mengerti tentang semua kurasakan.
mencoba tuk meratapi langkah.
namun tak ada yg menunutunku.
hidupku seperti tak berada,
bagai rumput kecil yg tumbuh di luasnya sang gurun.
tak ada yg menemani
dan kuhanya sendiri bersama heningnya kesunyian.
bersama angin kulantunkan sebuah puisi kesunyian hati.
maknakan aku yang rapuh kehilangan arti hidup.

Kecewa

Aku hanya seonggok daging tak berguna

Yang tak mengerti dan hanya dimengerti

Terlalu banyak orang yang kecewa karnaku

Bahkan untuk diriku pun aku kecewa

Buat apa aku bernafas bila tak berhembus!

Buat apa aku berfikir bila tak berharap!

Buat apa aku melangkah bila tak ada tujuan!

Dan buat apa aku bermimpi bila tak jadi nyata!

Damai Yang Bersemayam

Rintik hujan telah sirna dari peraduannya
Perlahan mendekati keringnya hati ini
Sejuk,,, mendamaikan jiwa yang padam
Merasuki raga yang telah tentram

Damai bersenandung dalam keraimaian
Berirama dalam tulusnya senyuman
Memusnakan kepedihan dalam tangisan
Tawa dan canda penuh dalam hiasan

Hati ini besemayam dalam tulisan
Tergambar dalam sebuah lukisan
Terdesis dalam rinaian hujan
Seiringnya hembusan nafas dan waktu berjalan

Mengukir Senja Diatas Nisan

Aku kenang dia
Dalam suatu masa
Walau dunia kita berbeda
Kau kan selalu ada

Kini hanya tangisan dan air mata
Tanpa ada bayanganmu yang nyata
Yang tak mungkin bersama
Menjalani waktu dengan bahagia

inilah kisah sedih
Yang pernah ku alami
Hilangnya sentuhan kasih
Yang selalu ada disisi

Mengapa kau begitu cepat berlalu
Kini ku lewati senja tanpamu
Tak ada lagi warna jingga untukku
Hanya kelam dan rindu masalalu

Akan ku ukir senja diatas nisan
Penuh pilu berderaian tangisan
Rinduku ini akan menjadi beban
Karna dirimu hanyalah angan

Kan ku ukir senja diatas namamu
Kan ku sandarkan hati ini padamu
Kan ku rangkai kenangan masalalu
Walau dirimu tak dapat lagi tersentuh

Tinta Senja

Kutuliskan tinta senja..

Pada lembaran samudra..

Tuk melepas beribu rasa..

Dalam hati yang begitu lara..


Keindahannya hanyalah sebatas waktu..

Yang tak lama lagi berlalu..

Hatipun berubah menjadi pilu..

Saat senja tak lagi padaku..


Ronanya begitu padam..

Pada sudut-sudut kelam..

Tertutup oleh setitik hitam..

Saat tirai malam mulai tersulam..