Kebahagiaan tidak ada didunia ini, takkan pernah ditemui dimana pun. Yang ada hanyalah kepahitan getirnya hidup. Begitu pula ketika aku menemukan cinta, sebelum tumbuh, yang terasa hanyalah lara. Menghujam perih, laksana bilahan jarum menusuk dihatiku. Sakitnya berpendar, berbaur dan menggumpal pada aliran darah. Menguras persendian air mata, hingga menyesakan rongga dada. Sebab, cinta hanyalah luka bagiku.
Tepian samudra disaat senja. Mulai terlukis warna jingga dilautan yang memudarkan cahayanya. Mataku berkaca dan hati pun terangkai menjadi sebuah panorama alam yang begitu mega. Lisan tak mampu lagi berucapkan kata. Raga ini hanya berdecak kagum oleh keindahan cakrawala. Deguban jantung pun ikut menari dalam keindahannya.
Aku, perempuan yang terbalutkan sepi. Perlahan tenggelam dalam desir pasir pantai yang telah memudar. Begitu lambat, seperti sesuatu yang hampa dan tanpa adanya tujuan. Meninggalkan jejak langkah pada sederet kenangan dibelakangnya, hingga hilang tanpa bekas. Lalu air laut segera membasuhku, Namun aroma itu masih tetap sama. Dan sejenak mengatur irama hembusan nafas "aku merasa damai, sedamai mentari dipagi hari". Saat itulah aku inginkan sebuah masa, saat itulah aku inginkan sebuah waktu. Aku hanya bisa menangis kala merasakan damai dan aku hanya bisa tertawa saat sadar akan kesendirianku.
Aku, perempuan yang terbalutkan pilu. Lelah pada sang waktu, lelah pada kehidupan, lelahku mencari cinta yang telah tiada. Namun, semua tak mengandung sebuah arti. Perjalanan hidup ini, perjuangan yang tiada pasti. Membuatku tenggelam dalam dunia fana, yang takkan pernah nyata. Penuh rahasia dibalik sebuah misteri, yang selamanya tak ku tahui. Sebelum senja tiba, biarkan angin berlalu disela pepohonan yang berbaris syahdu, membawakan kenangan masalalu menuju tepian hatiku yang telah kosong. Sebelum senja singgah, biarkan awan berkelana, membawakan segumpal asa menuju samudra raya. Sebelum senja usai, biarkan ku gapai segalanya, agar tersenyumku dalam segenggam luka.
Aku, perempuan yang terbalutkan luka. Sejenak raga ini mulai singgah dari serbuk pasir yang berderai. Seolah jiwa ini terlah tertafsir oleh lautan yang terisikan oleh karang. Terhenti aku dalam berfikir, lalu mulai memasuki renunganku. Pepohonan senja telah kilaukan dedaunan, bagai kristal tertiupkan angin. Kesunyian terbakar disepucuk ilalang, menyilaukan cahaya ke dalam kalbu. Surya bagaikan lensa jingga, dimataku kaulah cakrawala cinta. Selendang gelombang ikut menari meliukan hatiku. Gulungan ombak merepih ketepian, sempurnakan sudut akhir kerlingan mata. Aku pun tersungkur dicahaya matamu. Guguran kelopak awan jatuh menjelma perahu, menuntunku dalam kelambu menuju tempat yang jauh.. Jauh lebih indah dari kilauan semesta ini.
No comments:
Post a Comment