kata yang tertuangkan diatas kertas adalah bentuk dari perasaan yang mengalir lewat pena. kemudian tersirat dalam secarcik indahnya kata yang terkumpul menjadi bait-bait yang mengalun penuh makna..

Thursday, November 1, 2012

Catatan Suram


Dari sudut pagi yang sedikit kelabu, ku nantikan bias cahaya mentari menyinari kesedihanku. Kisah yang tak kunjung berakhir, membuatku terus tenggelam dalam kefanaan duniawi. Kaki yang terus melangkah menuntun pada arah tanpa bayang. Dan waktu terus melaju menuntunku pada lorong - lorong hitam, disitu ku mencari ujung cahaya.

Hening.. Terus menenggelamkan ku pada ke tidak berdayaan. Suara angin tanpa adanya nada membuatku terpuruk dalam kegelisaan. Dinginnya rasa semakin membuatku merasakan keterasingan yg tanpa cahaya. Dan sampai saat ini, ku mengharakan cahaya menuntunku kembali ke masa yang penuh dengan warna.

Pada kenyataan disudut dinding yg masih terlihat buram. Disini, hanya ada dua warna yg masih berhias. Hitam dan putih dalam masalalu. Dan semakin membuatku tenggelam dalam kesunyian rasa. Tanpa asa air mata membasahi jiwa yg terpuruk ini.

Aku berusaha bangkit. Mencari sebias cahaya diujung lorong ini. Dan suara - suara itu kembali terdengar dan membuatku enggan melangkahkan pijakan yang telah membekas dibelakang. Ingin ku kembali pada pijakan pertama, dan ku hapus pijakan yg telah membekas..

Jalan yang menapaki air mata yg sedari tadi membasahi jalan. Keringat yang bercucuran ikut serta, seraya merayakan kegembiraan kesedihanku. Dan aku hanya tersenyum pelit melihat itu semua. Dengan langkah gontai aku melanjutkan perjalanan..

Dengan sudut pandang yg berbeda, aku kembali melihat ke belakang. Terlintas memori bak sebuah film yang dirol alurnya. Disitu dimana kenangan yg dulu indah kembali menghinggapi alam bawah fikiran ini. Beberapa revolusi kehidupan terkenang, dan aku menyadari diriku belum merdeka atas diriku. Yah.. Aku masih dijajah oleh bayang kehidupan yg kelam, suram yg membuat diriku enggap menyimpulkan senyuman, dan jiwaku telah kaku dimakan jaman.

Tubuhku kembali tersungkur. Kembali merejam rasa yg tak bisa digambarkan sakitnya seperti apa. Meresap tajam seolah membunuh setiap persendiannya. Mata melihat tajam, namun tatapannya penuh kekosongan. Entah apa yg terbesit dialam fikirku. Semua seperti tidak nyata, namun sakitnya begitu nyata. Yaa itulah aku, jiwa yg lemah dan masih setia pada kehidupan kelam.

Aku mencoba memejamkan mata yg menatap penuh kekosongan tadi. Mencoba menyadarkan diri dialam yang fana. Entah apa tujuanku yg sebenarnya, hidup di dunia yang begitu nyata tapi terasa fana, atau hidup di alam fana tapi semua begitu nyata. Entahlah, Tuhan yang berhak menuntunku, kmana aku dituntun..

Diruang kosong ini, aku tak begitu tahu apa yg terjadi diluar ini. Apa itu siang atau kah malam, bagiku semua sama, sunyi. Bahkan suara serangga pun enggan bernyanyi mengiringi kesepianku, angin engan berbisik ke gendang pendengaran, hanya dinginnya embun yg menyejukan kesedihanku tentang artinya kehidupan, tepatnya kehidupan yg begitu sunyi sepi..

Oh Tuhan yg katanya Maha Mendengar.. Bantulah aku keluar dari sudut - sudut yang tak bernyawa ini. Tuntunlah aku menuju ujung yg bercahaya, bawalah aku ke dunia yg katanya penuh dengan kebahagiaan yangg nyata. Berilah aku petunjuk diantara pilihanMu. Dan berilah cara agar aku terlepas dari keterbelengguan ini. Aku tahu ini nyata, tetapi aku hanya bisa menerimanya dengan kefanaanmu. Jika Kau mengijinkan, ijinkan aku dipertemukan dengan bayanganku atau ijinkan aku melihat jasatku yg seperti tidak bernyawa ini. Oh Tuhan Yang Maha Bijaksana, dengarlah secuil doaku yang tak berarti itu, hanya kepadaMu aku mengemis dengan airmata ini. Aku tahu, aku hanyalah umatmu yang banyak mengeluh dan tak pandai bersyukur. Tuhan hanya itu satu pintaku..

Bait demi bait yang ku senandungkan, aku harap aku dapat keluar dari sudut ruang ini. Aku lelah pada kenyataan, aku lelah pada kehidupan yang terus menyiksakku didalam kefanaan yang begitu menyakitkan. Oh Tuhan aku ingin kembali kepadaMu. Aku rindu pelukanMu..

No comments:

Post a Comment